Laman

Senin, 20 Juli 2015

Gelak Tawa Rina

Malam itu malam Kamis. Di luar sebenarnya sedang mendung dan petir mulai bernyanyi dengan nada tenor.
Tapi kamar petak khusus wanita milik Jola lebih ramai, namun dengan suara sopran.

Rina dan Dinta saling berteriak teriak berisik karena ikan teri yang bergemiricik di atas teflon mini milik Jola. Teflon dengan diameter 15 cm saja dan diletakkan di atas kompor yang tidak kalah mini dengan tabung gas seperti pilok.

Setelah sambal dan sayuran rebus ala steam boat selesai dipotong, mereka mulai duduk untuk makan sambil menunggu Jola pulang.

Malam itu, selepas kerja penat sepanjang hari, Senin sampai Jumat sampai basi, terlempar kenangan di tengah canda di suatu sesi.

Kenangan itu kembali pada jaman kuliah dulu. Segerombolan anak cewek kost-kostan dengan dana setebal-tebalnya kantong saja. Kantongnya, kantong celana jeans yang sudah ketat juga dengan nota fotokopi catatan teman menjelang ujian.

Saat bubur tawar dengan campuran sosis Vida terasa begitu nikmat, ditaburi merica dan juga saos bahan pepaya rasanya sudah lengkap.

Rina, Dinta dan Jola berbicara susul-menyusul penuh ambisi, penuh api yang membakar janji. Kata orang tua, itu namanya darah muda. Kata mereka, itu namanya hidup bahagia.

Untuk apa semua dimiliki kalau tidak bisa dinikmati

Mulai dari cerita dosen, gosip pacaran, ide berjualan, hingga stok belanja apa yang akan dibeli hingga akhir bulan.

Apalah arti skripsi itu bagi mereka, apalah arti duduk paling depan dan juga belajar hingga larut malam. Farmasi tidak menyediakan banyak sela untuk tetap ceria, namun mereka selalu dapat bercanda di tiap sela.


Bukan prestasi yang pas-pasan yang mereka banggakan, namun kenangan yang tiada terasa ketika waktu berjalan begitu anggunnya.

Siapapun mereka di masa depan, toh mereka akan tetap berkumpul bersama, di antara makanan sederhana dengan rasa mewah, dengan jerit astaga di setiap gosip dengan iringan kata, "masa siih", dan dengan mata terbelalak ketika terlontar pengakuan

Kenangan itu tetap akan tersimpan, biarkanlah memori itu menjadi senyuman yang mengiringi perjalanan, namun mereka kan selalu menjadikan setiap detiknya menjadi abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar