Laman

Jumat, 08 April 2016

Danau Abu-abu

Pagi itu terasa masih basah.
Hujan semalam menyisakan aroma tanah layu
Daun bergerak lambat terhirup cacing yang sudah terantuk batu

Aku lihat kamu dari balik bambu
Tangan yang sedang sibuk menaik turunkan kantung teh yang semakin pudar
Aku lihat kamu dari celah derit rumah panggung
Hanya denting sendok berwarna di dalam cangkir milikku

Aku menutup mata saja saat aku kira kamu akan berbalik
Sandal itu berbunyi sama seperti pertama aku belikan untukmu
Kamu bilang, ini bahan karet tapi bersuara kayu

Aroma teh menguar mendekat ke dipanku
Dipanku sebentar lagi akan terasa hangat
Karna cangkir itu tak memiliki tatakan
Aku sengaja membelikanmu tidak satu set
Selalu kusisakan ruang bagimu, untuk menjadi pelengkapku

Aku merasakan kamu dekat
Hanya 10 cm saja hidungmu lekat dengan dahiku
Aku tau, kamu tidak segera mendaratkan bibirmu
Itu yang selalu kutunggu darimu
Aku menunggu 10 detik, mencoba bertahan melawan penasaran untuk membuka mata

Kelopak mata ternyata terdiri dari beberapa lapis kulit, saraf dan sel
Yang kadang bergerak otomatis melawan rasa
Kelopak mata menarik dirinya membiarkan mataku telanjang
Telanjang menatapmu. Mata dan mata.

Ah tapi, memang kamu istimewa.
Menggemparkan sekali warna coklat muda itu, diantara bentuk gerhana dengan semburat coklat gelap. Matamu selalu menawarkan rindu

Pagi itu masih terasa basah
Terasa dingin dan sejuk
Kamu menuntunku ke tepi danau
Sudah terasa sulit kita melangkah

Dekade demi dekade waktu berjalan begitu anggun. Melangkah kita ke tepi danau itu. 

Danau abu-abu

Kau dan aku berdansa, bernyanyi la la la

Melambungkan usia kita

Harapan kita

Di tepi danau abu-abu