Laman

Senin, 16 Februari 2015

Harumnya Kotak Bekal Rina

Sore ini di Jakarta hujan mulai menggila. Hujan yang paling ditunggu karena panas di Jakarta memang terasa menggila di hari-hari kemarau.

 Rina membuka payung pink-nya. Dengan sedikit bibir mengerucut dan tangan yang terangkat hingga ke tepian atas payung, susah sekali payung cantik itu terbuka. Mungkin karena payung itu berenda atau karena memang tidak ada hubungannya dengan renda sama sekali.

Jalan basah dan genangan air menjadi kesukaan Rina, tidak seperti banyak orang lainnya. Dia berjalan menginjak-injak genangan. Tempat rasanya genangan bercampur dengan masa kecilnya. Beberapa kali orang menghindari dia yang sibuk mencipratkan airnya ke kiri dan ke kanan, sampai di satu sudut jalan Rina menemukan pedagang pukis yang sedang membuat pukis-pukis mengepul yang nikmat rasanya.

Ah, aroma ini...aroma pukis manis...harumnya terasa hangat menjalar jiwa. Gelora masa kecil nan indah kembali hadir. Tanpa sengaja bayangan Rina kembali ke masa kanak-kanaknya. Oh pukis itu, dahulu duduk manis di kotak bekalnya.

Rina dengan baju merah panjang hingga selutut. Di dalamnya ada kemeja warna putih, kata Mamanya, baju dobel itu biar hangat. Pukis manis oh pukis manis, kau hadir di setiap selasa dan kamis. Bukan karena anak TK ini sedang diajari tirakat, tapi karena penjual pukis manis di komplek rumah Bandung nya itu hanya masak pukis manis di hari Selasa dan Kamis.

Rina menempatkan diri dekat-dekat dengan pukis itu. Menundukkan hidungnya mendekat ke pemanggang pukis. "Panas mb, " lamunannya dibuyarkan oleh pembuat pukis.

" Beli 5 pak, tambah coklatnya"

5 buah pukis sekarang terasa kurang berarti dibandingkan dengan bobot Rina saat ini. Angka 5 yang mendahului total angka dari berat badannya yang hampir mendekati angka 6. Sekarang tubuhnya seperti bola bekel yang biasa dia mainkan di kelas 6 SD dulu.

Pukis manis itu membawa pikiran dan lamunannya ke tempat dulu dia bermain di sudut taman bermain TK Agustinus.

Ada tembok warna warni dengan lukisan hewan dan juga gambar Bona dan Rongrong. Ada juga tembok yang terkelupas karena digoresi krayon oleh teman-temannya.

Selagi menunggu adonan pukis itu dituangkan dan dimatangkan, Rina jadi ingat.

Dulu di taman bermain itu ada tanah pasir tempat dia bermain dengan sukacita. Tertawa dan bergembira ceria. Sebelum bel TK itu berbunyi, Rina suka datang lebih dulu, duduk paling depan dengan penuh semangat. Antusias anak TK yang tidak mau kalah.

Tas kecil berkarakter dengan warna oranye berisikan botol minum mini dan tas bekal yang mengandung pukis di hari Selasa dan Kamis.

Deretan ketrampilan tangan dan gambar di dinding, dan juga kotak-kotak krayon dan wangi malam di pojokan lemari.

Ah, masa itu sungguh indah sekali.

Rina teringat pada suatu waktu. Di mana Rina kecil yang pemberani ini tidak mau ditunggui di sekolahnya. Tidak seperti anak-anak yang merengek ditonton orang tuanya.

Rina memilih bangku paling depan, menjawab paling lantang, dan tak ragu memeluk teman.

Suatu kali, saat Rina pulang dari WC, ditemukannya bangkunya ditempati oleh Jimmy.

Jimmy anak tengil dengan rambut kriwil, badannya bau matahari. Tertawanya lebar dan kupingnya juga lebar. Minta dijewer.

Rina kesal lalu datang dan menghardik Jimmy. Jimmy malah tambah keras tertawa sambil menjulurkan lidah dan berkata dengan cadel, "Lasain!"

"Ini mb 5 ribu, sahut abang pukis sambil mengemasi pukisnya. Rina kesulitan mengambil dompet di antara, payung, tas dan juga pukisnya.

"Makasih ya pak. "Rina berlalu sambil tersenyum mengingat memori itu. Memori di mana dia bermain diantara dengan teman TKnya, dengan rival kriwilnya yang sekarang sudah sukses jadi perawat. Tersenyum senang salah tingkah dia buka kertas panas yang berisi pukis.

Pukis manis, aroma manis. Anak kinyis mringis-mringis.

Rina yang pemberani dan optimis.

Dunia tidak pernah sama antara dulu dan saat ini, tapi memori selalu di hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar