Pagi itu terasa masih basah.
Hujan semalam menyisakan aroma tanah layu
Daun bergerak lambat terhirup cacing yang sudah terantuk batu
Aku lihat kamu dari balik bambu
Tangan yang sedang sibuk menaik turunkan kantung teh yang semakin pudar
Aku lihat kamu dari celah derit rumah panggung
Hanya denting sendok berwarna di dalam cangkir milikku
Aku menutup mata saja saat aku kira kamu akan berbalik
Sandal itu berbunyi sama seperti pertama aku belikan untukmu
Kamu bilang, ini bahan karet tapi bersuara kayu
Aroma teh menguar mendekat ke dipanku
Dipanku sebentar lagi akan terasa hangat
Karna cangkir itu tak memiliki tatakan
Aku sengaja membelikanmu tidak satu set
Selalu kusisakan ruang bagimu, untuk menjadi pelengkapku
Aku merasakan kamu dekat
Hanya 10 cm saja hidungmu lekat dengan dahiku
Aku tau, kamu tidak segera mendaratkan bibirmu
Itu yang selalu kutunggu darimu
Aku menunggu 10 detik, mencoba bertahan melawan penasaran untuk membuka mata
Kelopak mata ternyata terdiri dari beberapa lapis kulit, saraf dan sel
Yang kadang bergerak otomatis melawan rasa
Kelopak mata menarik dirinya membiarkan mataku telanjang
Telanjang menatapmu. Mata dan mata.
Ah tapi, memang kamu istimewa.
Menggemparkan sekali warna coklat muda itu, diantara bentuk gerhana dengan semburat coklat gelap. Matamu selalu menawarkan rindu
Pagi itu masih terasa basah
Terasa dingin dan sejuk
Kamu menuntunku ke tepi danau
Sudah terasa sulit kita melangkah
Dekade demi dekade waktu berjalan begitu anggun. Melangkah kita ke tepi danau itu.
Danau abu-abu
Kau dan aku berdansa, bernyanyi la la la
Melambungkan usia kita
Harapan kita
Di tepi danau abu-abu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar